Pengalaman Pertama Naik Singapore Airlines (Rute Jakarta - Tokyo - Jakarta)

Di sepanjang hidup gue, baru pertama kali merasakan naik pesawat maskapai non-low-cost. Sebut saja norak, tapi tulisan gue kali ini pasti sedikit banyak akan membantu teman-teman yang juga belum pernah merasakan pengalaman naik pesawat yang selalu masuk ranking top 10 Airlines versi Skytrax. Singapore Airlines nggak sengaja gue pilih karena memang di tanggal keberangkatan yang gue mau untuk rute Jakarta - Tokyo, hanya maskapai ini yang menawarkan tarif penerbangan termurah.


Oktober 2017, tanpa sengaja gue berjodoh dengan Singapore Airlines. Sebelumnya gue pernah baca cerita salah satu teman gue yang pernah dapat tiket return Jakarta – Tokyo hanya 3,5juta IDR saja. Hanya saja memang dia perginya bukan pas musim semi. Gue sadar betul bahwa harga tiket pesawat tujuan Jepang pada musim semi itu pasti melonjak naik seiring dengan tingginya demand. Jadi begitu gue menemukan tiket PP Jakarta – Tokyo seharga 5,4juta IDR, tanpa pikir panjang langsung gue eksekusi.

“Ah, maskapai tetangga cuma 2 jutaan PP,” sabda netizen.

Yakin tuh perginya pas musim semi? Maskapai low-cost bukan? Sebelum kalian ngotot bahwa harga tiket yang gue beli masih kemahalan, sebaiknya tanyakan dua pertanyaan itu dulu pada diri kalian. Gue pun begitu. Hanya dua pertanyaan itu yang akhirnya bisa meyakinkan gue untuk mantab membeli tiket tersebut. Setahu gue ada juga promo Ana Air yang dibanderol sekitar Rp. 4jutaan, tapi belinya juga melalui travel fair. (CMIIW)


Tahu nggak, maskapai low-cost yang biasa gue pilih, di tanggal yang sama, malah menawarkan harga 6,1juta IDR. Tarif lebih mahal dan belum termasuk bagasi dan makanan. So, kapan lagi kan ke Jepang pas musim semi naik the best airlines di dunia dengan harga segitu dan nggak melalui travel fair yang memaksa kita untuk menginap di pelataran mall. Dah, gue mikirnya sih simple gitu saja deh. #AbisItuPuasaManing


Bagasi

Penerbangan yang gue ambil ini bukan direct flight, artinya gue harus transit di Singapura tanpa perlu ambil bagasi lagi di sana. Jadi bagasi baru diambil begitu tiba di Tokyo. Jatah bagasinya per orang dapat 30 kg. Ini juga salah satu kelebihan dari Singapore Airlines yang gue suka. Gue nggak perlu bongkar muat koper supaya sebagian bisa dibawa ke kabin terus nggak overweight.

Total berat bagasi gue pas berangkat hanya 25kg. Sementara jatah berat barang bawaan ke kabin maksimal 7 kg. Masih ada space 5 kg, alhasil semua barang yang nggak perlu gue masukkan semua ke bagasi. Jadi gue hanya bawa tas ransel kecil plus tas kamera ke kabin. Hidup terasa ringan. Beda banget kalau naik pesawat low-cost yang harus bawa gembolan sampai punggung kecengklak. #sok


Meals & Beverage

Sebelum hari penerbangan berlangsung, gue sudah memesan makanan terlebih dahulu secara online. Sebenarnya pesan makanan secara online di Singapore Airlines itu bukan memilih secara spesifik menu apa yang akan kita makan, tapi kayak cuma 'note' buat flight attendantnya. Gue memilih 'Moslem meals' di semua penerbangan yang gue naiki. Buat teman-teman muslim, ini harus diperhatikan ya. Karena makanan di atas pesawat (SQ) nggak semuanya halal.


Namun jika kalian nggak ada masalah atau permintaan khusus mengenai makanan, menunya akan menyesuaikan dengan negara tujuan. Berhubung tujuan gue adalah Tokyo, jadi di menu ada pilihan mie soba ala Jepang.

Makanan utamanya selalu berbeda di tiap penerbangan yang gue naiki. Tapi selalu dihidangkan dengan segelas air mineral berukuran kecil dan jus kemasan atau cangkir yang bisa diisi teh atau kopi. Selama penerbangan juga para penumpang mendapatkan free flow minuman. Ada jus jeruk, teh/kopi, dan minuman beralkohol. Untuk rute jauh, selain main course, para penumpang juga dibagikan es krim.


Kursi & in-Flight Entertainment

Kursi yang gue pilih termasuk 'Forward Zone Seats' di kelas Ekonomi. Maksud dari 'Forward Zone Seats' ini adalah lokasi kursinya yang dekat dengan pintu keluar pesawat. Sederhananya, kursi ini ada di jejeran depan yang ada di kelas Ekonomi. Jadi begitu pesawat mendarat, kesempatan penumpang untuk keluar pesawat terlebih dahulu lebih besar, dibandingkan dengan penumpang yang memilih standard seats. Kalau booking tiket dengan kelas ekonomi, kalian bisa pilih seats tipe ini in advance.
Source: Seatguru.com

Ruang kaki cukup lega dengan lebar 32cm. Kalau kalian punya ukuran kaki yang cukup panjang, mungkin bisa tambah pilihan extra leg room seats. Nanti bakal duduk di barisan paling depan, menghadap pramugari saat posisi seat belt sedang dipasang. Cie adep-adepan..

Promo murah Singapore Airlines ke jepang

Di tiap kursi tersedia AC power (colokan kabel data), on-demand tv (bisa nonton film terbaru, serial tv, games, radio) yang bisa diatur lewat remote control. Jika ingin menggunakannya, jangan lupa untuk pasang earphone yang colokannya ada di pegangan kursi masing-masing (sebelah kiri).



Jakarta – Singapura (SQ955)

Penerbangan ini menggunakan pesawat Boeing 777-300. Jangan tanyakan ke gue apa artinya, ya. Sebelum masuk ke dalam pesawat, para penumpang dipersilakan mengambil earphone di dalam baki yang tersedia di dalam garbarata. Gue menduduki kursi nomer 32A, tepat di dekat jendela. Pemilihan kursi ini bisa gue ganti sesuka hati secara gratis selama belum check-in online.


Di perjalanan Jakarta – Singapura, gue dapat makan sekali dan beberapa kali refill minuman. Menu makanan yang ditawarkan hanya dua dan gue memilih menu seperti yang ada di gambar atas. Gue pilih yang kedua. Di nampan makanan yang diberikan pramugarinya, ada sosis sapi omelet, hash brown, air mineral, teh, puding dan gelas kosong yang isinya bisa dipilih antara teh manis atau kopi. Secara keseluruhan menu yang disajikan enak. Meskipun pudingnya menurut gue kopi banget, which is terasa aneh di lidah.

Singapura – Tokyo (SQ634)

Untuk rute ini menggunakan pesawat yang lebih besar, yaitu Boeing 777-300ER (77W) Three Class. Kenyamanan dari segi kursi dan posisinya nggak jauh berbeda, nomer kursinya pun hanya beda satu, yaitu di 33A. Karena durasi perjalanan yang memakan waktu hampir tujuh jam, masing-masing kursi sudah disediakan bantal dan selimut yang masih dibungkus plastik.

freebies singapore airlines


Sama seperti penerbangan sebelumnya, penumpang dipersilakan mengambil earphone. Nah, earphone dari penerbangan sebelumnya bisa dibawa pulang. Entah ini asumsi gue saja atau gimana. Soalnya nggak ada yang ngumpulin earphone atau baki untuk tempat mengembalikan earphonenya lagi. Kalau kalian paham hal ini, coba tulis di kolom komentar ya supaya gue nggak menyesatkan.

Di penerbangan ini, gue nggak ditanyakan lagi mau pilih menu makanan apa. Memang diberikan buku menunya sih, tapi karena gue sudah memesan Moslem Meals secara online, jadi gue diberikan makanan yang sudah ditentukan oleh pihak maskapai terlebih dahulu dibandingkan penumpang lain. Setelah memberikan makanan untuk gue, para pramugarinya keliling menanyakan menu ke penumpang lain. Jadi gue pasrah saja gitu mau dipilihkan menu apapun, yang penting halal.

moslem meals on singapore airlines

Jadi Moslem Meals yang dibagikan siang itu adalah ayam dengan mashed potato. Ini enak banget! Sayangnya gue nggak suka dengan saladnya. Dressingnya kering banget, hanya ditaburi garam gitu. Kebayang nggak makan lalapan cocol garam? Begitu selesai makan, penumpang dibagikan es krim magnum ukuran kecil. Happy nggak, sih??

desert on singapore airlines

Setelah menempuh perjalanan selama 6 jam 55 menit, pesawat mendarat di Haneda International Airport dengan baik, meskipun nggak bisa dibilang mulus banget, sih.


Tokyo – Singapore (SQ637)

Saat perjalanan pulang dari Tokyo, sebelum masuk ke dalam garbarata, seorang petugas memanggil nomer grup para penumpang. Jadi penumpang dibagi menjadi beberapa grup agar tertib masuk ke dalam pesawat. Hal ini sudah biasa, sih. Tapi pas berangkat gue nggak mengalami hal seperti ini. Entahlah apa mungkin standar tiap negaranya berbeda atau gimana.

Jenis pesawat yang digunakan masih sama, yaitu Boeing 777-300ER (77W) Three Class. Dengan formasi 3-3-3 di kelas ekonomi. Gue masih duduk di barisan “Forward Zone Seat”, dengan nomer kursi 34K yang berada di dekat jendela. Beruntungnya gue memilih kursi ini karena saat penerbangan, ternyata melewati Gunung Fuji dan terlihat jelas sekali dari dalam pesawat. Sayang gue nggak sempat mengabadikan moment tersebut, lantaran semua handphone dan kamera sedang dalam kondisi mati. Ini juga tips buat kalian yang mau melihat Gunung Fuji dari dalam pesawat. Pilihlah kursi deretan K atau yang berada di dekat jendela sebelah kanan badan pesawat.

pesan moslem meals di singapore airlines
chicken sausage with mashed potato

Gue agak kecewa dengan pelayanan di rute Tokyo - Singapore kali ini. Jadi dalam menu set kali ini, tiap orang dapat roti gitu kan. Gue nggak ada. Gue tanyakan ke pramugarinya, tapi setelah itu nggak ada satu pun yang menghampiri lagi untuk memberikan roti. Berhubung gue sudah capek banget, jadi ya sudah nggak gue permasalahkan. Setelah main course selesai disantap, pramugari membagikan es krim. Entah karena es krimnya mengandung produk non-halal atau gimana, tapi gue dan Ulfa dilewati begitu saja saat pembagian es krim ini. :(

Perjalanan kali ini menempuh waktu selama 7 jam 10 menit. Bertolak dari Narita International Airport pukul 11:10 dan tiba di Changi International Airport pada pukul 17:20. Alhamdulillah selama perjalanan nggak mengalami kendala apapun, pesawat mendarat cukup mulus.


Singapore – Jakarta (SQ966)

Terminal kedatangan dari Tokyo dengan keberangkatan menuju ke Jakarta berada di terminal yang berbeda. Jadi pastikan kalian memperhatikan jarak waktu keberangkatan saat transit ini, ya. Karena penerbangan selanjutnya ini hanya selisih kurang dari satu jam saja. Alhasil gue dan teman-teman harus jalan terburu-buru. Lelah, shay.. Kalau naik golf car di bandara itu kena charge lagi nggak, sih?

menu chicken rice on singapore airlines

Menu yang diberikan kali ini adalah chicken rice dan bread puding. Akhirnya nyentuh nasi lagi. Rasanya lumayan enak, untuk porsi ya bukan porsi warteg. Pesawat yang digunakan kali ini berjenis Boeing 777-300. Di badan pesawat bagian luar, terpampang tulisan Star Alliance, bukan Singapore Airlines. Setahu gue, Singapore Airlines merupakan salah satu partner dari Star Alliance. Tapi gue kurang mengerti mengapa rute Singapore – Jakarta kali ini menggunakan pesawat ini.

singapore airlines review
singapore airlines review
in-flight entertainment singapore airlines
leg room singapore airlines

Interiornya memang sedikit berbeda dibandingkan dengan pesawat-pesawat Singapore Airlines yang sudah gue naiki sebelumnya. Terlihat dari bentuk on-demand tv, remotenya, dan kursi. Boleh dibilang seperti satu tingkat lebih rendah dari pesawat-pesawat Singapore Airlines yang gue naiki sebelumnya. Tapi kualitas pelayanannya tetap sama baiknya, kok.


*******************************************************
transit di singapore naik singapore airlines

Dari keseluruhan pengalaman penerbangan kali ini, gue nggak menemukan celah fatal yang bikin gue kapok menggunakan maskapai Singapore Airlines lagi. Hanya saja mungkin ada beberapa yang bisa lebih ditingkatkan di penerbangan selanjutnya. Mudah-mudahan ada staff dari Singapore Airlines yang baca, sih.

Makanannya lumayan enak dan sudah gue sebutkan di atas, bahwa hanya saladnya saja yang nggak bisa gue nikmati sama sekali. Balik lagi ke soal selera ya. Bisa jadi mungkin dari ratusan penumpang di dalam pesawat, hanya gue yang merasa demikian. Tapi gue cukup senang dengan minuman yang free flow dan selalu ditawarkan tanpa harus diminta terlebih dahulu. Salut untuk cabin crew melayani para penumpang dengan sangat baik, ramah, dan sigap. Terutama saat rute Singapore – Tokyo.

Hanya saja mungkin pramugari bisa lebih menginformasikan perihal free snack mana yang halal atau nggak. Seperti yang gue alami saat pramugari membagikan es krim saat rute Tokyo – Singapore, hanya gue dan Ulfa yang nggak dikasih dan gue nggak tahu alasannya apakah memang es krimnya non-halal atau nggak. Setidaknya hal seperti ini diinformasikan saja. Misalkan, “Excuse me miss, it's a non-halal ice cream, do you still want to try?”, atau basa-basi apa gitu ya. Kalau diinformasikan seperti ini kan gue nggak jadi sirik, gitu. :D

naik singapore airlines ke jepang

Oh iya, saat keberangkatan di Soekarno-Hatta International Airport Terminal 2, gue sempat diberi tahu oleh Ground Staff bahwa gue mendapatkan free voucher sebesar $20. Gue nggak begitu jelas pada saat itu tentang di mana vouchernya bisa diambil, bisa digunakan untuk apa saja, dan berlaku kapan. Gue kelewatan informasi ini.

Ternyata voucher sebesar $20 bisa diambil saat transit di Changi International Airport untuk digunakan selama transit di sana. Bisa digunakan untuk beli makanan atau souvenir di toko-toko yang ada di Changi International Airport. Sayang banget, kan!

Informasi ini baru gue ketahui saat sudah pulang ke Indonesia. Gue bertanya melalui email dan diberi tahu seperti itu. Tapi nggak apa-apalah, namanya juga pengalaman pertama dan selama transit pun gue nggak sempat window shopping apalagi shopping beneran lantaran durasi transit yang memang nggak terlalu lama. Padahal kismin.

pengalaman transit di changi naik sq

Itu dia cerita pengalaman pertama gue naik Singapore Airlines. Nggak heran mengapa maskapai ini selalu masuk jajaran the best airlines in the world, ya. Semoga di lain kesempatan bisa naik maskapai ini lagi dengan rute berbeda. See you on my next post!

Review Singapore airlines

10 Comments

  1. Hi Nidy,

    Salam kenal ya :) Wah sayang banget waktu kemarin nemu promo SQ ngga langsung beli gue. Kelamaan galaunya eh tiba-tiba udah meledak harganya :((.

    Seru ya naik SQ, banyak orang bilang SQ ini masih terbaik dari segala sisi. Anyway, i love the way you write dan menyampaikan cerita secara visual. i learn something from you.

    Cheers,
    Ogie

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Ogie,
      Makasih udah mampir! Salam kenal juga.
      Hahaha kelewat ya promonya, keburu disamber orang. Prinsip promo tiket pesawat itu: Now or never :))

      Wadawww...makasih loh jadi tersanjung ini :D

      Delete
  2. Untuk flight jauh, pilihan pesawat yang bukan low cost carier kayanya penting. dan lagi, emang harganya mencekik sih tapi ada harga ada kualitas ya. asique banget! pengen. tapi kudu nabung berapa lama ya :'D tapi pengen banget nyobain pesawat bukan low cost carier asli hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. One day you will experience it. :)

      Dulu aku juga nggak pernah kepikiran bisa naik maskapai sekelas SQ begini. Alhamdulillah kesampaian juga.

      Delete
  3. wah thanks banget udah berbagi pengalaman serunya naik maskapai mewah... Entah kapan gue bisa naik beginian juga tapi lumayan dapat info2 penting :D .. Sayang banget itu $20 hangus begitu saja.. Tapi jadi informasi berharga buat yang mau naik maskapai ini siapa tahu dpt voucher juga..

    -Traveler Paruh Waktu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pasti bisa donk suatu saat nanti!
      Iya, makanya gue share supaya nggak ada yang kebingungan kayak yang gue alami. T.T

      Delete
  4. Mantaaaaaap! detail & menarik bgt ceritanya. Ga ada yg ai skip pas baca. wkwkwkwk

    bs buat catatan, kali aja kapan2 ai berkesempatan naik airlines ini, ga keliatan udik2 bgt jdnya. hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahahahaha biar nggak kayak Mandra naik pesawat yaaa :D

      Delete
  5. Akhirnya review ini published juga.

    Aku belum pernah naik SQ (Scoot aja belom pernah), tapi puji Tuhan udah pernah naik Garuda, Malaysia Airlines, Batik Air, sama Malindo. Dua di antaranya bisa tercapai karena dibayarin xD

    Nggak yakin soal earphone, tapi selama ini selalu kutinggal selesai penerbangan.

    Betul kak, penerbangan SQ dapet promo. Kalo nggak salah, Scoot juga. Grup maskapai ini memang luar biasa.

    ReplyDelete
  6. asumsiku juga itu es krim nggak halal sih mbak... karena mungkin sebelumnya udah tau, kursi berapa yang orangnya muslim. But, harus tetep lah ya... biar care diinfokan gitu... Salam kenal ya mbak.... Baru pertama kali aku maen kesini, 😉. salam dari #jejakbiru

    ReplyDelete

Hai!!
Terima kasih telah membaca blog Nidyholic.
Feel free to leave a comment. Budayakan membaca, ya. Jika ada komen yang informasinya sudah jelas tertulis di artikel dan menggunakan profile Anonymous, akan dianggap SPAM.
Have a good day!