"Ini anak yang nggak diharapkan, ya?" Tanya bidan di Puskesmas saat gue hamil trimester dua. Sebagai perempuan yang terbilang 'telat' menikah untuk standar kehidupan orang Indonesia, hati gue seketika hancur saat mendengar pertanyaan itu.
Gue sudah sejak lama ingin punya anak. Namun jalan kehidupan yang diberikan Allah ke gue cukup panjang. Sebelum akhirnya tiba di fase jadi seorang ibu, gue memerlukan waktu selama 36 tahun untuk tahu bagaimana rasanya jadi seorang ibu.
Pertama Kali Menggunakan BPJS untuk Pemeriksaan Kehamilan
Siang itu adalah kunjungan kedua gue cek kehamilan di Puskesmas. Biasanya selalu cek kehamilan di klinik bersalin dekat rumah pakai biaya pribadi. Selama beberapa kali pemeriksaan, Alhamdulillah tidak ada indikasi untuk dilakukan operasi caesar. Kondisi janin, air ketuban, lilitan, semua masih normal dan bisa diusahakan untuk lahiran pervaginam. Namun atas saran teman, gue disuruh cari alternatif pemeriksaan di faskes 1 agar bisa dapat rujukan jikalau nanti harus melahirkan Sectio Caesarea (SC) secara mendadak menggunakan Bpjs.
Saat itu, peraturan menggunakan BPJS untuk melahirkan baru saja berubah. Ibu hamil yang akan melahirkan secara SC minimal sudah 3x diperiksa kehamilannya di faskes 1 atau faskes rujukan. Bisa gratis USG juga sebanyak satu kali tiap trimester.
Sebenarnya gue nggak begitu tertarik untuk USG di rumah sakit rekanan BPJS, karena biasanya hanya bisa USG 2D. Sementara gue dan suami, sama-sama kepo ingin lihat raut muka anak kami di dalam kandungan seperti apa tiap bulannya dalam bentuk USG 4D. Tapi ya berhubung sudah termasuk benefit dari BPJS, ya boleh lah. Biar ada gunanya sudah iuran tiap bulan.
Rabu pagi gue pertama kali ke faskes 1. Dapat antrian nomer 2. Tanpa menunggu lama, gue langsung dipersilakan masuk. Di dalam sudah ada beberapa bidan. Semuanya ramah & helpful. Bidan yang paling muda menawarkan apakah mau cek USG ke faskes rujukan atau tidak. Kata beliau bisa, karena usia gue yang sudah di atas 30 tahun, jadi sudah masuk ke dalam kategori kehamilan beresiko. Ya sudah gue nurut saja. Katanya Sabtu nanti gue disuruh kembali lagi untuk ambil rujukannya.
Sabtu pagi menjelang siang, gue kembali ke sana. Ada dua bidan yang sedang bertugas. Bidan yang sedang bertugas ini berbeda dengan yang gue temui di hari Rabu.
Sebut saja bidan A dan bidan B. Bidan A sibuk memasukan data di laptopnya, bidan B yang terus bertanya ke gue.
"Ibu usianya berapa?", tanya bidan B
"36 tahun", jawab gue singkat.
"Ini kehamilan yang tidak diinginkan, ya?", tanyanya lagi
Sontak gue kaget. Sempat nge-freeze. Kok bisa-bisanya dia berasumi begitu, minimal tanya dulu nggak, sih, ini anak ke berapa. Apakah ini anak gue yang ke delapan sampai bisa dibilang tidak diharapkan.
"Hah? Ini anak pertama, bu. Diharapkan banget malah", jawab gue sambil atur nada bicara biar nggak kelihatan mulai sebal.
"Ooh, tapi udah 36 tahun ya, wah beresiko ini, nanti melahirkan Caesar aja di RS. T. Nanti saya yang anterin pas mau melahirkan. Kalau nggak ditemenin nanti nggak bisa pake Eracs operasinya. Bisa sekalian pasang KB IUD. Nanti kasih uang jalan aja ke saya.", kata bidan B
Gue sebenarnya tahu arah pembicaraannya. Tapi gue udah muak pengen cepat-cepat beranjak dari sana. Tujuan gue urus surat rujukan kan hanya untuk jaga-jaga, kalau sampai di akhir masa kehamilan diharuskan dirujuk untuk operasi SC, gue sudah tahu harus ke mana, sudah ada riwayat pemeriksaan juga di rumah sakit tersebut. Tidak pusing soal biaya juga, karena biaya melahirkannya sudah pasti lebih mahal. Bukan mau melahirkan secara SC terencana.
Fyi, gue tidak anti untuk melahirkan secara SC, tapi kalau masih bisa diusahakan secara pervaginam, akan gue usahakan dulu. Jadi kalau ditanya tentang rencana melahirkan, gue selalu mantab menjawab untuk pervaginam dulu. That simple, that that that simple.
Begitu surat rujukan selesai, gue duduk sebentar di ruang tunggu, sambil memikirkan mau naik apa ke RS T. Tiba-tiba bidan B keluar ruangan menghampiri gue. “Ibu, ping whatsapp saya dulu, nanti jangan lupa hubungi saya dulu kalau mau melahirkan biar bisa gratis Eracs,” katanya lagi.
Gue hanya mengiyakan, kemudian buru-buru keluar dan menuju ke stasiun KRL. Lalu naik kereta menuju Stasiun Bojong Gede. Belum juga tiba di Stasiun Bojong Gede, sudah ada pesan whatsapp dari nomor tidak dikenal, isinya, “Bu, ini nomer saya ya, di-save”. Wow, dia gercep banget langsung lihat data nomer hp gue yang terekam di Puskesmas.
Niat Mau Periksa Kehamilan, Malah Dirujuk Rawat Inap
Udara siang itu panas sekali. Membawa perut yang sudah semakin besar seorang diri, ternyata tidak mudah. Napas mulai pendek. Andai saja suami kerjanya nggak jauh. Setidaknya kalau kepanasan kan ada yang bantu ngipasin yaaa T.T
Dari stasiun, gue memesan ojek online. Ternyata lokasinya cukup jauh. Dari segi lokasi saja, sepertinya rumah sakit rujukan ini akan gue eliminasi, tidak akan berpikir dua kali untuk melahirkan di rumah sakit yang lokasinya sejauh ini dari rumah. Tapi gue masih mencoba memberi kesempatan untuk melihat dulu bagaimana pelayanan di rumah sakit ini.
Begitu tiba di rumah sakit, lagi-lagi gue tidak merasa impressed. Kecil banget rumah sakitnya, parkiran susah, dan ruang tunggu di area dokter kandungannya panas banget. Beneran panas luar biasa, tanpa AC maupun kipas angin.
Gue tahu ini rumah sakit rujukan BPJS kelas 3, tapi ini kan ruang tunggu dokter kandungan, di mana pasiennya 98% ya ibu hamil yang mudah gerah dan haus. Lokasinya jauh, ruang tunggu tidak nyaman, dan gue harus menunggu selama 4 jam sendirian.Jujur di saat itu gue sudah pengen banget pulang saja untuk istirahat.
Begitu tiba giliran gue diperiksa, ternyata ada pasien lain yang sedang diperiksa juga. Jadi gue bisa mendengar tuh proses pemeriksaan pasien sebelumnya, dan pasien setelah gue pun bisa mendengar proses pemeriksaan gue. Privacy obseooo.
Hasil pemeriksaan gue dinyatakan harus bed rest dan dirawat inap, dikarenakan perut gue kencang sudah beberapa hari ke belakang. Dikhawatirkan memicu kontraksi sebelum waktunya.
Gue dirawat inap selama tiga hari, sendirian pula, suami lagi bertugas di Afrika Barat. Alhamdulillah walau ada perbedaan waktu, dia masih rajin video call istrinya. Meskipun dalam hati kecil maunya ditemani langsung, demi sesuap berlian dan private jet, ya sudahlah.
Selama tiga hari ini gue mendapatkan delapan kali suntikan pematangan baru. Buat yang belum tahu, suntikan ini berguna untuk mematangkan paru-paru janin, jadi jikalau sewaktu-waktu janin lahir sebelum waktunya, paru-parunya sudah kuat. Kurang lebih begitu.
Namun... sensasi tiap kali tangan gue diberi suntikan tersebut, rasanya luar biasa gatal di bagian kemaluan. Sebentar sih, tapi luar biasa banget!
Setelah tiga hari menginap di rumah sakit tersebut, gue makin mantab tidak mau melahirkan di sana. Pertama, BPJS gue kelas 1, tapi sampai gue keluar rumah sakit, gue masih ditempatkan di kamar kelas 2 yang sangat tidak nyaman. Satu ruangan terdiri dari empat orang, disekat gorden. Gue nggak kebayang kalau nanti habis melahirkan dengan mood yang makin swing harus kompromi dengan tamu dari pasien sebelah yang berisik nggak tahu waktu. Belum lagi pegawai rumah sakit yang tiap kali mengantarkan makanan langsung nyelonong masuk tanpa permisi, dan itu laki-laki.
![]() |
| Tahu kan kenapa gue selalu beli makanan online |
Gue sudah kebayang gimana stresnya jikalau melahirkan di rumah sakit itu. Mana menu makanan rumah sakitnya benar-benar tidak menggugah selera. Selama menginap di sana, gue selalu pesan makanan di ojek online.
Sebelum check out dari rumah sakit, gue tanya hasil pemeriksaan janinnya. By the way, ini gue yang inisiatif nanya ya, bukan diberi tahu sama nakesnya. Katanya posisi janin miring, sedikit menghalangi jalan lahir.
Apakah gue percaya? Hm, 50:50 sih, gue lebih percaya insting dan insting gue mengatakan gue sebaiknya periksa kehamilan kembali ke klinik langganan gue.
Benar saja, hasil USG 4D di klinik langganan mengatakan janin gue dalam kondisi normal, tidak menghalangi jalan lahir, dan masih bisa melahirkan pervaginam. Gue hanya disuruh sering istirahat, tidak boleh capek sama sekali.
Seminggu kemudian, nyokap ke puskesmas untuk minta rujukan ke rumah sakit lain yang lebih layak. Alhamdulillah bisa, dan rumah sakit rujukan yang baru lebih nyaman. Setidaknya ruang tunggunya ada kipas angin dan banyak kursi pijat, jadi pendamping yang menemani gue untuk periksa kehamilan di rumah sakit tersebut, bisa pijat di kursi pijat dulu.
Di rumah sakit rujukan yang kedua ini, lagi-lagi dokter tidak melihat ada indikasi untuk SC. Karena peraturan BPJS, beliau menyarankan untuk cari alternatif tempat melahirkan secara pervaginam. Karena persalinan pervaginam tidak di-cover BPJS meskipun ada beberapa kasus yang datang ke IGD saat sudah pembukaan empat bisa ditanggung BPJS, namun pihak RS tidak mau mengambil resiko, karena pernah ada kasus seperti itu namun pada akhirnya bills-nya ditolak oleh BPJS. Jadi pihak RS tidak mau menanggung resiko itu.
Gue pun semakin mantab untuk melahirkan di klinik dekat rumah saja. Sudah jelas dokternya pro-normal, bidannya juga tidak bikin stres.
Hampir Melahirkan di Dalam Mobil
Long story short, tibalah di usia 39 minggu.
Gue mulai gelisah karena belum ada tanda-tanda melahirkan. Konon wajar apalagi anak pertama, bayinya masih mencari jalan lahir. Gue rajin ajak ngomong bayinya setiap hari, supaya keluar tepat waktu. “Kalau mau lebih cepat, lebih cepat sehari saja ya, nak. Jangan kecepatan. Jangan kelambatan juga”
Entah mengapa mental gue merasa lebih berani menghadapi moment ini ketika waktunya tepat sesuai rencana.
![]() |
| USG terakhir sebelum melahirkan |
H-3 sebelum tanggal HPL, gue cek lagi ke dokter kandungan di klinik langganan. Hasilnya semua masih baik. Air ketuban cukup dan jernih, tensi normal, posisi janin juga sudah di bawah. Dokter hanya menganjurkan untuk lebih sering olahraga seperti jalan kaki atau squat untuk memancing bayi turun ke panggul.
Kelar konsultasi dengan dokter, gue minta ke bidannya untuk pijat gelombang cinta. Oleh bidan juga dipijat pereniumnya supaya jalan lahirnya tidak kaku. Kata bidan, perenium gue masih kaku. Harus sering HB dengan suami biar lentur. Masalahnya suaminya masih di Afrika, bagaimana ceritanya T.T
Jadinya ya sudah gue perbanyak doa saja, semoga dilancarkan prosesnya nanti dan tepat waktu. Gue sudah pesan ke suami untuk sering baca doa Maryam.
H-2 dari HPL gue menuruti apa kata dokter untuk lebih sering olahraga. Sebenarnya terhitung terlambat sih untuk olahraga mendekati hari H. Seharusnya begitu masuk trimester 3 sudah lebih sering olahraga. Tapi percayalah, begitu masuk trimester 3 justru semakin malas gerak. Mau gerak kayak apapun tetap merasa tidak nyaman.
Kebetulan dua ponakan sedang menginap di rumah, jadi bisa jalan kaki pagi sambil ditemani mereka. H-1 dari tanggal HPL, gue masih mengusahakan jalan kaki pagi. Begitu sampai rumah, gue cek ternyata keluar flek, namun belum begitu banyak. Kemudian gue beraktivitas seperti biasa saja, seperti masak, main sama keponakan. Siangnya, ketika hendak tidur, gue merasa perut mules seperti mau mensruasi. Rasanya makin intens, namun gue ingat belum beli kain jarik untuk dipakai saat melahirkan.
Kebetulan bidan di klinik sudah memberitahukan daftar keperluan packing untuk melahirkan dan hanya kain jarik itu yang belum gue punya. Sekitar pukul 2 siang, gue mengajak mama ke Pasar Anyar Bogor untuk membeli kain jarik tersebut. Sekitar pukul 3 sore, perut semakin terasa mules.
Berhubung setiap masa menstruasi gue nggak pernah merasakan mules yang luar biasa, jadi gue yakin 100% proses mules ini adalah tahap awal menuju proses melahirkan. Begitu selesai belanja di Pasar Anyar, gue langsung minta diantar ke klinik karena kontraksinya makin terasa.
Tiba di klinik sekitar pukul 16:30 dan langsung dicek pembukaan oleh bidan. Namun katanya masih pembukaan 1. Ya Allah baru pembukaan 1 aja gue sudah merasa nyawa kayak mau dicabut.
Akhirnya gue memutuskan kembali ke rumah dulu saja. Soalnya kliniknya tidak besar dan sedang ada ibu hamil yang juga sedang menunggu proses pembukaan, katanya pembukaannya stuck di pembukaan 4 sejak semalam. Ruang nifasnya pun hanya muat dua orang. Daripada gue stres lihat orang lain lama proses pembukaannya, mending gue di rumah. Lebih nyaman dan bisa fokus.
Sesampainya di rumah, gue langsung duduk di atas gym ball sambil meliukkan badan ke kanan dan ke kiri. Konon gerakkan ini bisa membantu bayi turun ke panggul. Gue terus memutarkan pinggul walaupun kontraksi di perut semakin intens.
Mama bantu menempelkan kompres di punggung. Demi Allah, proses kontraksi ini begitu menyiksa. Apalagi saat intervalnya makin intense jadi per 10 menit sekali. Sejam sekali gue whatsapp bidannya, tapi kata bidan kemungkinan masih kontraksi palsu.
Gue mondar-mandir dari dapur ke pintu samping dengan pakaian super terbuka saking gerahnya. Sesekali minum air kelapa, katanya juga membantu proses pembukaan.
Papa cuma bisa bantu doa sambil lihatin gue yang lagi kesakitan. Suami sudah video call tapi gue sudah tidak punya tenaga untuk ambil hp. Sempat muntah juga sekali. Mama langsung ajak ke klinik. Katanya dia pas melahirkan gue dulu juga sempat muntah, tidak lama dari muntah, gue lahir.
Sementara interval kontraksi mulai sempit menjadi per 5 menit sekali. Jeda 5 menit lagi itu ngantuknya luar biasa, tapi tidak bisa dibawa tidur. Rasanya tuh seperti ngantuk habis begadang 3 hari, begitu mata mau mejam kayak ada yang jambak. Mungkin bagi ibu yang pernah melahirkan secara pervaginam atau biasa disebut melahirkan normal, pasti pernah merasakan nikmatnya kontraksi ini.
Sekitar pukul 8 malam, gue memutuskan untuk kembali ke klinik. Gue sudah tidak tahan banget. Naasnya, di pertengahan jalan sedang ada perbaikan jalan. Biasanya hanya 5 menit, ini malah memakan waktu 30 menit. Kelihatannya sih sebentar ya, namun kalau dalam kondisi sedang kontraksi gitu mah ya Allah tersiksa banget. Mana pas lagi macet, bayinya sudah ngajak ngeden.persis di depan Stasiun Cilebut. Doa Nabi Yunus tetap dipanjatkan dalam hati, meskipun takut bayinya keburu lahir di dalam mobil.
Gimana sih rasanya itu bayi sudah ngajak ngeden, tapi belum boleh ngeden?
TERSIKSA......
Pukul 20:30 gue tiba di klinik, gue langsung masuk ruang bersalin. Pas dicek bidan untuk mengetahui sudah pembukaan berapa, ternyata sudah pembukaan lengkap. Totalnya dari pembukaan 1 ke pembukaan lengkap ini kurang lebih empat jam.
Namun proses mengeluarkan bayinya juga tidak semudah itu, Fernando. Berhubung ini anak pertama, jadi gue masih zero experience soal teknik ngeden/mengejan yang benar.
Gue salah ngeden mulu, jadinya otot perinium gue bengkak dan harus digunting jalan lahirnya. Sudah setengah jam di ruang bersalin, belum juga keluar. Bidan memberitahukan air ketuban sudah berwarna hijau.
Gue masih berusaha ngeden sambil doa dalam hati. Tidak ada teriakan atau adegan jambak menjambak. Alhamdulillah gue masih bisa kontrol diri. Karena harus fokus sama pernapasan dan tetap berdoa dalam hati.
Pokoknya doa Nabi Yunus tidak berhenti sejak pagi tadi. Begitu jam menunjukkan pukul 21:00, gue niatkan ucap dalam hati untuk ngomong ke bayinya, “Ya Allah, anakku sayang, keluar jam 21:25 ya, nak. Jangan lama-lama di dalam. Mama nggak sabar mau peluk, mau gendong. Keluar dengan sehat dan selamat ya”
Masya Allah Tabarakallah, dengan bantuan dua orang bidan, anak gue lahir tepat pukul 21:25. Alhamdulillah.
Namun tidak langsung terdengar suara tangis. Bahkan gue lihat badannya biru. Tapi gue nggak panik. Gue terus ngomong dengan volume kencang supaya anak gue dengar, “Sayang, ayo nangis, nak, yang kencang. Mama mau dengar suaranya yang kencang, ya”.
Bidan masih memberikan pertolongan pernapasan untuk bayinya. Tidak lama kemudian datang satu orang bidan lagi. Dia langsung handle bayi gue, sementara dua bidan yang tadi bantu persalinan membantu membersihkan sisa darah dan kotoran, lalu mulai persiapan untuk menjahit bekas jalan lahir.
Gue masih terus berusaha ajak ngomong bayinya dari jauh. Gue percaya anak ini memang dititipkan Allah untuk gue dan suami. Jadi gue percaya dia akan selamat.
Alhamdulillah tidak lama kemudian gue mendengar suara tangisnya. Kemudian bayinya langsung dibersihkan dan dipakaikan pakaiannya. Gue lega. Semakin lega lagi begitu anaknya dibiarkan untuk IMD.
Gue langsung ambil hp dan kirim kabar ke suami.
Begitu selesai dijahit, tidak lama kemudian kedua orangtua gue masuk untuk mengazankan bayinya. Tidak usah ditanya seperti apa rasanya dijahit. Tenaaang, masih pakai obat bius lokal kok. Gue tidak akan mau melahirkan di klinik itu kalau tahu akan dijahit hidup-hidup tanpa bius lokal. Itulah mengapa gue mantab melahirkan di klinik tersebut. Jadi buat kalian yang berniat untuk melahirkan melalui proses pervaginam, pastikan untuk bertanya kepada bidannya apakah nanti saat dijahit diberi bius lokal atau tidak.
Selesai dijahit, bayinya juga sedang dibersihkan dan dipotong ari-arinya di ruangan sebelah, gue disuruh makan nasi goreng dulu yang sudah dipesankan oleh bidan.
Kalau diingat lagi, gue belum makan nasi sejak pagi. Hebat juga ya tenaga gue hari itu. #Pujidirisendiri
Selesai menghabiskan satu porsi nasi goreng, gue langsung buru-buru dipersilakan pindah ke ruangan nifas. Ternyata ibu hamil yang sedang berjuang melahirkan sejak kemarin malam sudah tambah proses pembukaannya. Alhamdulillah dia ketularan. Nggak kebayang kayak apa sakitnya nahan kontraksi lebih dari 24 jam.
Malam ini gue tidur bareng anak pertama gue, berduaan saja di dalam kamar. Semalaman gue cuma bisa ucap Alhamdulillah berkali-kali sambil nangis terharu. Sudah diberi kemudahan saat melahirkan. Semua karena kekuatan dari Allah SWT. Kalau suami ada di samping gue saat itu pasti sudah pelukan saking bahagianya.
"Terima kasih, nak, sudah memilih mama dan papa jadi orangtuamu. Semoga mama dan papa bisa menjaga amanah terbesar ini"
Tips Melahirkan di Usia 36 Tahun
Jadi buat teman-teman yang merasa seumuran gue yang sedang hamil atau sedang berjuang memiliki anak, tetap semangat ya! Timeline dari Allah tidak akan pernah salah. Tidak perlu takut dan khawatir kalau hamil di usia 30 tahun ke atas. Ini yang gue lakukan agar tetap sehat meskipun hamil di usia yang sudah cukup berumur:
- Biasakan olahraga dari sebelum hamil, muscle memory kita tidak berkhianat. Gue tiap hari naik KRL, kadang jalan cepat bahkan berlari mengejar jadwal KRL. Jadi begitu hamil, badan tidak kaget.
- Rutin minum vitamin
- Banyak minum air putih, tidak apa-apa air dingin, yang penting AIR PUTIH.
- Perbanyak afirmasi positif. Jujur lingkungan gue saat gue hamil, sedang banyak godaan untuk membuat gue ikutan stres. Mulai dari keluarga sampai teman yang nakut-nakutin. Ingat, hanya kita sendiri yang bisa mengontrol isi pikiran kita. Percayalah, hati dan pikiran yang tenang, nanti bayinya pun akan ikutan tenang. Karena sinyal yang dikirimkan dari hati dan pikiran kita selama kehamilan itu pasti akan sampai ke bayi juga. Ini bisa dilakukan dengan meditasi.
- Perbanyak referensi dari narasumber yang kompeten. Apalagi kita tinggal di Indonesia yang orangtuanya masih percaya takhayul dam pamali-pamalian. Memilih dokter yang pro-pervaginam pun gampang-gampang susah. Jadi harus trial and error ke berbagai rumah sakit atau klinik. Misalkan periksa ke RS A ternyata dokternya kurang bikin kita nyaman, jangan ragu untuk coba perika kehamilan ke dokter B.
- Sering yoga begitu usia kehamilan memasuki trimester 3
- Jangan lupa perbanyak berdoa
Intinya, mau berapapun usia kalian ketika hamil, yang perlu ingat hanya satu, Ibu hamil tidak boleh capek dan stres. Jadi lebih baik minimalisir ngobrol sama orang yang sekiranya suka tanpa sadar kasih afirmasi jelek ke kita. Misalnya, “Dulu gue lahiran sih masih umur 20an, fisik masih kuat ya, kalau gue hamil udah usia 30an kayak lo kayaknya nggak kuat deh.” Rasanya ingin sekali gue tempeleng mulutnya sambil bilang, "Sorry fisik kita berbeda."
Jangan telan mentah-mentah omongan orang yang seperti itu. Tiap orang sudah punya kekuatan fisik yang berbeda. Bagaimana cara kita melahirkan saja sudah ditetapkan oleh Allah. Jadi pasrahkan semua ke Allah. Filter semua omongan yang kita dengar. Tidak semua omongan orang itu punya niat tulus.
Jadi, semangat ya! Mau bagaimanapun caramu melahirkan nanti, itu sudah yang terbaik yang bisa kita lakukan demi keselamatan anak.
Ps: Terima kasih untuk Rumah Sehat Azizah, khususnya Dokter Mufti yang selalu menyemangati untuk bisa lahiran pervaginam, dan pastinya saja tiga bidan luar biasa yang bantu gue melahirkan sehingga bayinya bisa lahir dengan sehat dan selamat.




















0 Comments
Please notice: Subscribe to my blog before you leave a comment. Any active link on comment will be automatically deleted. Thank you for reading!