Pulau Tidung

4:04 PM

Saya cuma mau berbagi pengalaman perjalanan singkat saya dan beberapa teman saya ke Pulau Tidung. Pulau tidung sendiri masih termasuk di dalam gugusan kepulauan seribu, which is ga begitu jauh dari Jakarta. Terus terang saya juga sudah bosan dengan wisata panai yang ada di Jakarta, seperti Ancol (emang Ancol doank ya kayaknya yg ada di Jakarta, hehe) atau kalau mau jauh sedikit ke Anyer dan Carita. Setelah googling sana sini dan tanya refrensi dari teman-teman yang sudah pernah ke Pulau Tidung, akhirnya kita sepakat ke sana pada Libur Paskah yang tepat jatuh hari Jumat tanggal 22-23 April 2011. Kebetulan waktu itu si Momon, teman saya yang menemukan link paket wisata ulau Tidung dari salah satu website iklan. Untuk harga normal per orang sebenarnya Rp. 300.00,namun untungnya saat itu lagi ada promo jadi kita cukup membayar Rp.270.000. Untuk harga segitu kita sudah dapat penginapan/homestay, makan 3x dan sudah include BBQ di pinngir pantai, sepeda sepuasnya, sewa alat snorkeling, kapal PP muara angke-tidung, kapal keliling snorkeling, dan guide selama kita di sana.
salah satu pulau yang kita lewati saat menuju ke pulau tidung (entah apa namanya) :)
Hari pertama menjelang keberangkatan kita sepakat ketemu langsung di muara angke. Kebetulan Momon, Titi, dan adiknya menginap di kostan saya karena rumah mereka jauh dan pagi buta kita sudah harus berangkat. Di perjalanan menuju pelabuhan Muara angke, kita mampir sejenak di KFC buat beli bekal sarapan kita nanti. Maklum jam 6 kapal sudah harus berangkat dan perjalanan laut memakan waktu 3 jam.
kapal patroli dinas perhubungan
Sebelum perjalanan laut itu dimulai, semua penumpang kapal diberikan life jacket oleh para petugas dari departemen perhubungan. Wow, cukup aware juga yahh saya pikir tadinya kita ga bakalan dapat pelampung sama sekali. salah satu teman saya, si Riken sampai bela-belain beli pelampung pada malam sebelum kita berangkat. hahaha.,,
suasana di dalam kapal dek atas, ribet ya...
Kapal kayu ini kira-kira bisa menampung sekitar 100 orang karena terdapat dua lantai. Saya sarankan untuk pilih dek atas, karena tidak akan kepanasan dan bisa liat pemandangan sepuasnya. Selain itu sebelum kapal berangkat dan penumpang masih belum ambil posisi duduk 'permanen' lebih baik kaki kita di luruskan (baca: selonjorin) aja, karena nanti kalau kapal sudah jalan biasanya sebagian penumpang akan ambil posisi tidur dan alhasil kaki kita akan ketekuk selama 3 jam. Bisa kesemutan deh, makanya mendingan kita 'ngetem' kaki dulu. Hehehee..
Kira-kira jam 10 kurang kapal sudah merapat ke dermaga Pulau Tidung. Baru sampai aja kita sudah dibuat akjub sama kondisi air lautnya yang biru toska bening maannn! Perbedaan mencolok sama kondisi air laut saat kita baru beranjak dari muara angke yang hitam pekat serta bau amis. Saat memasuki gerbang Pulau Tidung, kita disambut sama sekelompok anak kecil yang lagi nari-nari betawi gitu (ga tau judul tariannya), ada ondel-ondel berpasangan dan pasangan cewek cowok mungkin kayak abang none pulau tidung kali ya. Oh iya, kita juga dapat welcome drink loh, isinya sirup warna kuning dan hijau. Saya pilih yang kuning karena warnanya familiar. Begitu saya teguk, 'aduh manisnya gini amat' itu yang saya ucapkan pada salah satu teman saya. Tapi lumayanlah buat menghilangkan rasa haus selama di perjalanan.
Kemudian kita diantar oleh guide kita yang namanya Yosef, anaknya baik, perawakan kecil, gokil pula jadi kita ga ngerasa bete deh saat ditemenin dia muter-muter. Untuk menuju ke homestay, kita ngelewatin gank setapak mirip kayak di jalan tikus Jakarta cuma ini versi halaman belakangnya laut. Lumayan jauh juga sih letak homestay kita, apalagi cuaca waktu itu panas banget. Begitu sampai di homestay, menu makan siang kita sudah ready nih di ruang tamunya. Menunya ada ikan pedes, tumis toge, dan tumis tahu. Saya waktu itu cuma makan sama ikan nya aja, soalnya menu tumisnya kurang menarik selera. Tapi ikan nya enak banget loh, kata yang punya homestay, Pak Muridun namanya, istrinya yang masakin makanan kita itu. Oh iya, homestay kita itu ukurannya luas banget loh kalo menurut saya sih untuk menampung 25 orang masih bisa sementara kita kan cuma 11 orang jadi space kita buat tidur nanti malam bakal legaaaa banget! Kamarnya sih ada 3, tapi kasurnya banyak banget dan setiap kamar dilengkapi air conditioner dan kamar mandi. Siaran tv juga jelas banget, di ruang tamu ada tv, dispenser, dan kipas angin. Kebetulan waktu itu kan hari jumat, jadi teman-teman yang cowok dipersilahkan untuk shalat jumat dulu setelah itu baru kita mulai aktivitas. Sementara yang cewek curi-curi waktu tidur sambil nunggu shalat jumat selesai, maklum kita semua jam 3 pagi sudah harus bangun.
Sekitar jam setengah 2, semuanya kumpul di teras homestay untuk mengukur sepatu katak buat snorkeling lalu kita jalan kaki bareng-bareng menuju kapal.
foto-foto dulu di depan homestay sebelum snorkeling
Rombongan kita waktu itu dibagi 2, karena digabung dengan peserta lain dari agen yang sama. Buat kita sih ga masalah, yang penting tetep have fun! Tujuan pertama kita yang pertama adalah pulau payung. Di sekitar pulau ini terumbu karang nya sudah banyak yang mati, tapi ikan-ikan di dalamnya lucu-lucu. Saya sempat ketemu artis hollywood, si Nemo dan ubur-ubur kecil. Aduh sebaiknya menghindari tersentuh ubur-ubur deh, soalnya badan saya jadi gatel waktu ga sengaja kesentuh ma ubur-ubur itu.
perjalanan sebelum snorkeling. Lia deh lautnya toska bangettt!!
Diantara kita semua belum pernah snorkeling. Jadi alhasil begitu guide kita nyuruh kita nyebur, kitamasih liat-liat sikon. Saya akhirnya yang pertama kali memberanikan diri nyebur, biar yang lain juga ikut berani. Si Momon dan riken yang paling takut, beberapa kali mereka teriak dan bertanya, "Oma, lo ngapung gak?", "Omaaa, dalem gaak?". Saya yang tadinya setengah mati menjelaskan kalau itu gak berbahaya, akhirnya nyerah dan saya tinggal aja deh. Hehehe... sorry ya ken.
Liat tuh pada ngumpuuul semua, kayak korban titanic yah!!
kondisi air laut di sekitar pulau tidung. beda jauh ma laut ancol... :p
how ugly on these google!! :D
arisan tengah laut
Sekitar jam setengah 4, kita bergegas menuju jembatan cinta. Jembatan yang paling terkenal di tidung itu. saya sempat bertanya pada Yosef, apa betul mitos tentang sepasang suami-istri hingga terbentuknya jembatan cinta itu benar atau tidak. Kata dia sih itu cuma karangan orang, kalau cerita yang benar-benar based on true story itu ada di dermaga dekat jembatan cinta. Katanya pernah ada orang yang bunuh diri disitu dan akhirnya dermaga itu dinamakan persis dengan nama orang yang bunuh diri itu. Tapi si Yosef sendiri juga lupa apa namanya. gubraaak!
Sebelum jalan menyusuri jembatan cinta itu, kita sempa penasaran sama orang-orang yang terjun bebas dari jembatan yang tingginya sekitar 5-10 meter. Saya dan Maya, adiknya Titi nekat memberanikan diri untuk ikut-ikutan lompat dari situ. Tadinya kita berdua mau lompat dengan tetap memakai pelampung, tapi Pak Muridun bilang katanya nanti bahunya bakal sakit kalau pakai pelampung. Yaudah deh kita lepas pelampungnya
suicide girls!!
Saya sempat ga nyangka kalau sensasinya bakal lebih bikin jantung lepas daripada naik wahana halilintar di dufan! Begitu nyebur, kaki saya sempat ikutan kaget juga karena kedalamannya kia-kira 3 meter. Saya berusaha kecipak-kecipuk untuk sampai ke daratan. Tapi begitu saya nengok dan lihat Maya, ternyata dia tenggelam karena ga bisa berenang. Mungkin kakinya keram dan masih shock jadi badannya kaku. Alhasil saya mau nolong dia, tapi dia terus tarik badan saya. Alhasil kita jadi tenggelam berdua, karena tangan saya ditarik sama dia, jadi gimana saya mau dayung badan saya yaa... hahaha. Lalu saya teriak ke salah satu teman saya yang malah bengong liat kejadian itu untuk segera lempar pelampung ke arah kita. Ga lama kemudian ada cowok juga yang nolongin Maya, lalu saya berenang deh sampai ke bibir pantai. Haduh, benar-benar deh pengalaman paling berharga. Hahahaha
yang diujung itu pulau tidung kecil
Setelah tragedi lompat indah itu, kita milih untuk menyusuri jembatan cinta. Kondisi jembatan memang agak memprihatinkan karena kayu-kayunya yang terbuat dari batang pohon kelapa itu sudah mulai rapuh. Para pengunjung yang datang pada hari itu lumayan banyak, karena jatuhnya kan long weekend tuh. Tapi perjalanan kita ga kita teruskan sampai ke Pulau Tidung kecil karena kita sudah terlanjur kecapekan. Jadi kita menikmati sunset dari tengah-tengah jembatan cinta deh.
si Momon yang lagi indehoy liat sunset
Setelah puas menikmati sunset, kita langsung bergegas balik ke homestay. Kita semua langsung ganti-gantian mandi dan siap-siap mau ke pinggir pantai untuk menikmati makan malam kita. Judul awalnya sih Bbq, yang ada di benak saya itu ya kita bakar sendiri menu seafoodnya. Tapi begitu kita sampai disana, menu sedang di bakar oleh para tuan rumah. Jadi kita tinggal duduk dan makan saja. Kita duduk di atas terpal dan sudah ada nasi, sayur, aqua, buah, dan kobokan. Ga lama kemudian, satu persatu seafood bakar kita datang. Ikan bakar nya satu ekor satu orang kurang lebih sepanjang telapak tangan kita lah dan sate cumi bakar. Yang paling manteb dari semuanya itu adalah sambalnya. Kita disediakan sambal kecap dan sambal biasa, keduanya berhail bikin saya keringatan. Benear-benar mengeyangkan deh!
wajah2 anak indonesia kelaparan
Setelah makan malam, kita langsung kembali ke homestay. Saya sih sudah benar-benar ngantuk, jadi langsung tidur. Tapi ada beberapa teman saya yang asyik main kartu dan ngobrol. Untung ga ada acara wayang golek, kalau ada si Momon mungkin bisa begadang sampai pagi.
Hari kedua kita masih harus bangun pagi buta. Jam 4 saya sudah selesai mandi. Saya ga sabar pengen cepat-cepat naik sepeda ke jembatan cinta lagi dan menikmati sunrise. Tapi berhubung ada beberapa yang masih belum bangun, jadi waktu kita agak melar dari jadwal semula. Kita ga kebagian liat sunrise sih, tapi jalan-jalan mengitari tidung sambil naik sepeda benar-benar seru. Walaupun tiap berpapasan dengan becak saya harus deg-degan di jalan yang sempit itu.
rudy n maya beraksi
Moment itu gak kita lewatkan untuk foto-foto, karena pada hari pertama kan kita semua sibuk melakukan aktivitas. Kita akhirnya sampai juga di ulau tidung kecil. Kita diajak Yosef melihat hutan tanaman bakau. Hamparan pasirnya benar-benar putih namun sempit. di perjalanan saya menemukan rumput yang bentuknya bulat seperti babi hutan. Lucu deh bentuknya kayak yang ada di video klip. hihi
ini loh rumput nya, apa namanya ya? kayak bulu babi..hihi
Tepat pukul 9 pagi, kita kembali nyebrang ke tidung besar. Kita sempat mampir sebentar untuk jajan es kelapa muda. Satu buah kelapa dihargai Rp. 7000. Lumayan lah buat menghilangkan rasa haus. Setelah itu kita segera kembali ke homestay untuk sarapan dan siap-siap pulang.
Sarapan pagi itu kita disediakan nasi uduk dengan lauk tempe, telor, dan krupuk. Enak lho nasi uduknya.
Jam setengah 11 kita sudah ada di dalam kapal pulang menuju ke Jakarta. Sayangnya karena kita ga buru-buru cari tempat pewe di kapal, kita kebagian di dek bawah. Sumpah bener-bener ga enak banget di bawah. soalnya berisik sama suara mesin kapal, udah gitu panasnya minta ampun.
Tapi so far sih perjalanan saya dan 10 teman saya yang lainnya ke Pulau Tidung sangat sangat menyenangkan.

You Might Also Like

0 komentar

Recommended Tour in South Korea

trazy.com

Featured Post

FAQ: Winter Trip in South Korea

Sebelumnya gue mau ucapin terima kasih banyak buat yang udah sempatkan untuk mampir di blog ini. Semenjak gue posting mengenai jalan-jal...

Instagram

Subscribe

Join Our Newsletter

Get All The Latest Updates Delivered Straight Into Your Inbox For Free!

We Respect Your Privacy | Get This Widget