Mampir ke Pengrajin Blangkon di Desa Bejiharjo

by - 10:06 AM

mampir ke pengrajin blangkon di desa bejiharjo

Jeep-jeep yang kami tumpangi berhenti di depan sebuah rumah. Sekujur  tubuh masih bersimbah lumpur, belum sempat dibersihkan sehabis pulang off road di Desa Bejiharjo.

“Masuk saja, sudah ada ibunya di dalam”, ujar Mas Arif, guide yang menemani kami off road di Desa Bejiharjo.

Masih bingung tapi gue diam saja, bertanya-tanya dalam hati. Ini rumah siapa? kita lagi blepotan begini main masuk aja.

“Pengrajin blangkon”, tiba-tiba mendengar salah seorang teman bicara.

Terjawab rupanya. :D

Gue pikir, kita tiba di rumah saudaranya Mas Arif. Sudah geer kirain mau dikasih makan. Maklum sebelum berangkat off road, baru sarapan gorengan saja. Jadi anaconda di perut sudah mulai berdesis. *joged2 nicky minaj*

“Sudah masuk saja, mbak”. Seorang wanita menyambut kedatangan kami dengan senyum sumringah.

Begitu melihat lantai teras rumahnya yang sudah bersih kinclong, gue langsung celingukan mencari kran air untuk membersihkan kaki yang kotor terkena cipratan lumpur. Begitu juga dengan teman-teman yang lain.

Mas Arif menyuruh kami ke kamar mandi yang terletak di samping rumah. 

Kami segera menuju ke sana. Bergerombol, mengantri di depan kamar mandi. Seperti cewek-cewek SMA yang kalau ke toilet serombongan. Ada yang cuma sebentar, yang penting basah. Ada pula yang lamanya kayak sedang mandi junub. Padahal cuma bersihin lumpur, loh. -_-"

pengrajin blangkon di jogja

Kaki sudah bersih, satu per satu dari kami masuk ke dalam rumah. Lalu berkenalan dengan tuan rumah, Ibu Erna, yang kala itu sedang asyik menjahit blangkon ditemani dengan putri dan keponakannya yang masih kecil. Ada banyak jarum jahit di samping tempat beliau duduk.

pengrajin blangkon di jogja

Gue melongok ke sekeliling ruangan.  Tidak ada galeri, hanya workshop sederhana di ruang keluarga. Berhiaskan televisi dan karpet saja. Di salah satu sudut temboknya ada rak pajangan berisi beberapa koleksi blangkon pesanan pelanggannya yang sudah siap diambil.

Tanpa bermaksud mengganggu kesibukan yang sedang dilakoni Ibu Erna, kami mengajaknya ngobrol sambil mempersilahkannya meneruskan pekerjaan.

Ibu Erna sudah menekuni profesi sebagai pengrajin blangkon sejak tahun 2007 semenjak menikah dengan suaminya sekarang, Bapak Suratno. Jauh sebelum itu, Pak Suratno sudah memulai profesi ini lebih dulu dan menularkan keahliannya kepada istrinya.

sentra kerajinan blangkon di jogja

Bu Erna bercerita, bahwa pada zaman dulu, pria di Jawa senang memelihara rambutnya sampai panjang. Demi menjaga kerapihan dan melindungi mahkota kepalanya tersebut, mereka menutupnya dengan secarik kain, dan menggulung semua rambutnya ke dalam kain di bagian belakang  hingga berbentuk seperti benjolan. Hingga saat ini kita menyebutnya dengan blangkon.

Jangan bayangkan adegan film Brama Kumbara dan Mantili, dimana para laki-lakinya memakai ikat kepala dengan rambut terurai panjang begitu saja. Menurut informasi yang gue dapatkan, fungsi dari blangkon itu sendiri ya memang untuk menjaga kerapihan rambut. Ini juga melambangkan bahwa mereka mampu menjaga kerapihan, mengendalikan diri, dan menata kepribadiannya. Sementara mondholan atau benjolan bulat yang berada di belakang kepala, menggambarkan tekad bulat seorang pria.

Jika pria di Jawa saat itu membuka ikatan rambutnya dan membiarkan terurai begitu saja seperti di film-film silat jaman dulu, maka itu bermakna sebagai gambaran luapan emosi yang sudah tak dapat dibendung lagi. Biasanya terjadi pada saat sedang ada konflik atau perang.

Ya kali mau perang masih sempet nguncir rambut. Keburu dibakar musuh rumahnya. T.T

Seiring perkembangan zaman, kini blangkon dibuat menjadi lebih praktis dan bisa langsung dipakai. Sementara mondholannya diganti dengan isian kapuk, berhubung memang sudah jarang laki-laki yang berambut panjang.

blangkon jogja

Pada umumnya blangkon hanya dibedakan menjadi 2, yaitu gaya Jogja dan gaya Solo. Faktor yang membedakannya hanya terletak di bagian mondholannya saja. Kalau gaya Jogja, sudah pasti ada mondholannya, sementara gaya Solo berbentuk trepes atau gepeng.

Bu Erna pada awalnya belajar membuat blangkon dari saudaranya, lalu diteruskan secara otodidak. Di Desanya terdapat kelompok pengrajin yang terdiri dari 10 orang. Jika Bu Erna mendapat pesanan dalam jumlah yang cukup banyak dan melebihi kapasitasnya, biasanya akan dioper ke teman-teman di kelompok pengrajin tersebut. Ya, bagi-bagi rejeki lah ceritanya.

jual blangkon di jogja

Dalam sehari, beliau mampu membuat 3 buah blangkon model mataraman. Pasokan kain untuk membuat blangkon, sebagian didapatkan dari Bantul dan Pasar Beringharjo.  Hingga saat ini belum ada supplier khusus kain yang memasok kebutuhan pembuatan blangkon di Desa Bejiharjo.

Untuk saat ini, beliau masih mengerjakan blangkon sesuai pesanan saja. Jika sudah selesai, pengepul akan datang selama seminggu sekali dan memasarkan produk buatan Ibu Erna ke beberapa pasar yang ada di Jogja. Sayangnya, produk blangkon yang dikerjakan oleh Ibu Erna belum diberikan merk sendiri. Biasanya toko-toko yang memasarkan produknya lah yang akan melabelkan merk di blangkonnya. Ketika ditanya kenapa, selain karena merasa tidak enak dengan pengrajin lain, beliau juga masih belum percaya diri. Namun jelas di binar kedua matanya, beliau juga berharap suatu saat nanti bisa menempelkan label merk nya sendiri. Amien..

Ayo ketik amien kalau mau masuk surga..

cara membuat blangkon

Ada dua teknik dalam proses pembuatan blangkon, yang pertama dijahit, dan yang kedua adalah dilem. Secara kualitas memang lebih unggul yang dijahit, karena lebih awet, strukturnya lebih lemas, dan lebih rapi. Harganya juga setara dengan proses pembuatannya. Blangkon hasil buatan Ibu Erna dihargai kisaran mulai dari 40k IDR sampai 300k IDR. Semua berdasarkan tingkat kerumitan dan kain yang digunakan.

Ada yang menarik perhatian saat sedang melihat Ibu Erna membuat blangkon, yaitu cetakan kepala yang digunakan, atau biasa disebut dengan plonco. Untuk membuat blangkon dengan ukuran kepala yang berbeda-beda, tergantung pada besar ukuran plonconya. Ibu Erna mempunyai sekitar 4-5 plonco. Namun saat ditanyakan ada ukuran apa saja, beliau agak kebingungan.

sentra kerajinan yang ada di gunung kidul jogja

Ya aku ikutin plonconya aja, mbak. Ndak tau ukurannya apa. Kalau bikin yang kodian ndak ada pakem ukurannya, langsung bres bres aja”, jawab Bu Erna.

Nah, kalau ingin memesan blangkon, ada baiknya datang langsung saja. Supaya bisa diukur dulu lingkar kepalanya dan hasilnya sesuai dengan ukuran si pemesan.

Hebatnya lagi, pada beberapa kali kesempatan beliau juga pernah menerima pesanan khusus dari keraton Jogja. Hasilnya tentu saja lebih bagus, karena kain yang digunakan juga kualitasnya super. Oh iya, kalau kamu tertarik untuk memesan blangkon di Bu Erna, bisa menggunakan kain yang sudah kamu bawa. Kreasi modelnya juga bisa disesuaikan dengan permintaan.

filosofi blangkon
Peserta take me out indonesia


Bu Erna juga tak lupa memberikan tips dalam menjaga keawetan blangkon, yaitu dengan cara dicuci dan disikat perlahan, kemudian setelah diaangin-anginkan dan kering, simpan blangkon ke dalam  kotak penyimpanan agar bentuknya tidak cepat berubah.

pedagang blangkon
Kang blangkon lagi ngegelar dagangannya buat ongkos pulang ke Jombang

Sayangnya perbincangan kami harus segera diakhiri, mengingat kegiatan yang sudah menanti kami di tempat selanjutnya. Gue senang sekali bisa mampir ke rumah Ibu Erna walaupun hanya sebentar. Banyak pengetahuan baru yang didapatkan sepulangnya dari sana. Jujur, ketika baru sampai, gue blank sama sekali mengenai blangkon. Pengetahuan gue benar-benar nol mengenai blangkon. Hanya tahu fungsinya sebagai hiasan kepala saat ada acara pernikahan.

Itulah indahnya travelling, gaes. Bukan hanya sekedar datang, foto-foto, lalu unggah di sosial media saja. Tapi kita bisa dapat pengetahuan baru, pengalaman baru, dan teman baru.

Kalau lagi main ke Goa Pindul, sempatkanlah mampir melihat kerajinan blangkon di Desa Bejiharjo, ya. Tinggal bilang saja ke mas-mas yang ada di sekretariat Dewabejo untuk diantarkan ke sana. Selamat berlibur!


[Baca juga: Keseruan Off Road di Desa Bejiharjo]


Contact Person
Ibu Erna
0877-3843-4466









FOLLOW ME HERE
  TWITTER || INSTAGRAM || GOOGLE
email: miss_nidy@yahoo.com

You May Also Like

26 komentar

  1. Itu yang jualan blangkon gantengnya Subhanallah sekali *kedip kedip*

    Ituuuu ibunya ekspresi mukanya difoto lagi ngapain bhuahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ganteng banget, pantesan aya sampe klepek2.. :D
      *Kesian muji diri sendiri mulu*

      Delete
  2. Sayang nggak bisa ketemu sama bapaknya ya. Selain blangkon, pas di sini aku kok teringat mbak-mbak yang tertawa di depat Jeep ya :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, padahal banyak yg bisa dikulik & ditanya2in kalo ada bapaknya ya..
      Eh, kamu terngiang2 sama mbak2 itu toh? jangan-jangan... :D

      Delete
  3. Aku malah baru ingat punya video ini jg stelah baca. Hahaha ntar di edut ah... *asik sm video lupa nulis* xixixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak jadi libur 2 minggu? Ditangguhkan ya sama humas?

      Delete
  4. Wah asik ya lihat pembuatan blankon. Aku tak ketik aamiin ajadeh mbak biar masuk surga wkwkwk.

    ReplyDelete
  5. Yawlaaaa, nyebut mandi junub! Hahahaha. Aku loh pikirnya nguras wkwkwkwk.

    Saya baru ini tahu secara langsung sentra kerajinan blangkon. Ternyata rumit yah, apalagi lihat untaian benang, jarum, lalu dijahit, aduh, aku tak bisa setelaten itu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rumitnya proses pembuatan blangkon ini gak serumit kisah cinta yg lalu2 kok. #JEGER #disamberpetir

      Delete
  6. Kalau misalnya pas nggak offroad, adakah yang berkunjung ke sini sekedar melihat-lihat atau mau pesan, Mbak?
    Setuju sekali dengan travelling tidak sekedar foto tetapi pengetahuan, pengalaman dan teman baru! 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada kok, siapapun bisa datang ke sana.

      Delete
  7. Bu Erna tuuu ramah banget :))
    Meskipun kita kotor-kotoran, tangannya ke mana-mana nyobain blangkon, tetep ramah meladeni :)

    Mbak rizka besok kalau calonnya menginginkan nikahnya berblangkon udah punya referensi kan kudu ke Jogja dulu? wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nanti aku bawa babang Hamish ke rumah bu Erna buat diukur kepalanya #eh

      Delete
  8. wahahaha itu cowok-cowoknya pada baris kaya boyband berblangkon :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pokoknya smash mah lewat deh ama mereka

      Delete
  9. wah sama blogger seleb semua, insan wisata, alid, aji sukma, halim, dan nasirullah..kece deh..btw blankon solo emang beda kak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya..Aku mah apa atuh cuma remahan rengginang di antara mereka :D

      Delete
  10. baru tau dan baru baca soal pabrik blangkon . unik juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Unik Kakks.. aku pun baru tau pas udah sampe sana

      Delete
  11. Iya, menyenangkan memang traveling sembari belajar budayanya. Saya pun juga baru tau sejarah blangkon ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Esensi traveling yang paling hakiki ((HAKIKI)), ya pengetahuan & pengalaman ya gak sih.. :D

      Delete
  12. traveling sekalian mencari teman dan ilmu, waaah iya banget. Ayo isi waktu muda kalian dengan bijak yaaa... cakep cakep euy blankonnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Model2nya juga cakep2 kan, mbak... T.T

      Delete
  13. Entah kenapa salah fokus lihat foto yang ada akunya mau ambil foto Bu Erna dari sudut atas lah kok ibunya angkat tangan gitu. Dosaku apa, Bu? Huhuhuhu. Cedih hati jomblo ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. HAHAHAHAHAHA... tetep loh si kokoh ini..
      Sabar ya, mblo..

      Delete

INSTAGRAM @miss_nidy

Recommended Tour in Korea

trazy.com

Member Of

Blogger Perempuan

Live Visitor